BOJ Bisa Menghapus Kemungkinan Pelonggaran Pada Bulan Juli

(21 Juli 2016, 8:00 GMT +07) Perkiraan investor bahwa Bank of Japan (BOJ)yen-76009_640-min akan melonggarkan kebijakan moneter minggu depan bisa luluh, karena pelemahan yen baru-baru ini dan paket belanja pemerintah mengurangi tekanan terhadap bank untuk meningkatkan program stimulus besar-besaran. Spekulasi pasar mengenai pelonggaran lebih lanjut melonjak pekan lalu setelah mantan ketua Federal Reserve Ben Bernanke mengatakan kepada Perdana Menteri Shinzo Abe bahwa masih terdapat “berbagai alat yang tersedia” untuk kebijakan moneter untuk memacu pertumbuhan.

Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan 85 persen analis memperkirakan BOJ akan mengadakan pelonggaran pada 29 Juli, di samping peningkatan pembelanjaan fiskal yang akan diumumkan Abe bulan ini.

BOJ telah menerapkan suku bunga negatif dan mencetak ¥80 triliun ($750 biliun) per tahun untuk merangsang inflasi setelah beberapa dekade deflasi dan pertumbuhan stagnan, namun ekspektasi inflasi tampaknya melemah.
Sumber yang dekat dengan BOJ mengatakan akan menurunkan penilaian bahwa tren yang mendasari inflasi “terus meningkat”.

Tapi tidak ada konsensus dalam bank untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
Sementara para pejabat tidak mengesampingkan kemungkinan kelanjutan stimulus pada bulan Juli, beberapa mengatakan hal kelambatan dalam mencapai target inflasi saja tidak harus memicu pelonggaran, karena pengetatan lapangan kerja pada akhirnya akan mendorong upah dan mempengaruhi harga. “Memang benar tren inflasi tidak memiliki momentum. Tapi yang penting adalah adanya tanda-tanda bahwa ekspektasi inflasi akan meningkatkan di masa depan,” kata salah satu sumber.

BOJ telah berada pada posisi stagnan setelah mengadopsi suku bunga negatif pada bulan Januari, dimana Gubernur Haruhiko Kuroda menyalahkan faktor sementara seperti jatuhnya harga minyak sebagai penyebab kelemahan inflasi.

Tapi perubahan biaya impor akibat kenaikan yen dan kelemahan konsumsi telah menyebabkan banyak analis memprediksi BOJ akan mengubah tajam perkiraan harga, menunda jangka waktu dua tahun untuk mencapai target dan melakukan pelonggaran tambahan.

BACA >  Fenomena Reli Dollar Menjelang Siklus Pengetatan Federal Reserve

“Jika BOJ menunda batas waktu lagi, hal itu akan melebihi masa jabatan Kuroda sebagai gubernur. Banyak orang berpikir bahwa tidak adanya tindakan dalam kondisi seperti itu akan menjadi hal yang tak dapat diterima,” kata Yuichi Kodama, kepala ekonom di Meiji Yasuda Life Insurance di Tokyo.

Beberapa pihak berpikir Kuroda akan melakukan pelonggaran bulan ini sejalan dengan rencana belanja Abe, tetapi mengingat himbauan Kelompok 20 negara anggota untuk menghindari ketergantungan pada kebijakan moneter untuk memacu pertumbuhan, BOJ mungkin akan tidak akan bertindak lebih lanjut.

Kuroda juga mungkin melihat sedikit alasan untuk bertindak, saham telah meningkat dan nilai yen bergeser ke 106 per dolar AS sejak turun di bawah 100 pada peristiwa Inggris meninggalkan Uni Eropa (Brexit) yang menyebabkan kegelisahan pasar global bulan lalu. Tetapi terdapat risiko bank yang memicu reaksi pasar jika gagal memenuhi harapan investor dalam hal pelonggaran.

“Dalam kasus ‘tidak mengambil tindakan’, anda harus melihat sisi teknis dolar/yen. Kita bisa melihat pergerakan turun yang cukup tajam,” kata Mitul Kotecha, kepala strategi FX di Asia-Pasifik untuk Barclays ( LON: BARC) di Singapura. “Kami sekitar memprediksi yen terhadap dolar sekitar 100 di awal bulan, dan saya berpikir penurunan ke level itu tidak akan mengejutkan, jika kita melihat tidak ada tindakan.”

Sebuah survei Citi menunjukkan 80 persen memprediksi dolar jatuh lebih dari 3 persen terhadap yen jika BOJ tidak mengambil tindakan pada bulan September. Lebih dari 30 persen berpikir kemerosotan lebih dari 4 persen.
Tapi hal itu tidak cukup untuk mempengaruhi para pejabat BOJ.
“BOJ tidak akan melakukan pelonggaran hanya karena pasar telah melakukan perhitungan,” kata salah satu sumber. “Itu bukan kebijakan moneter.”

BACA >  Kasus Fat Finger di Dolar Yen?

Post Comment