US Dollar Index Pangkas Kerugian Menjelang Pertemuan BOE

dollar indeks AS(14 Juli 2016 – 7:30 AM GMT +07) Indeks Dollar AS (US Dollar Index) berada pada level mendekati angka tertinggi tiga bulan, setelah dirilisnya survei Federal Reserve pada hari Rabu, menjelang keputusan yang sangat diantisipasi mengenai suku bunga oleh Bank of England.

Indeks Dollar AS, yang mengukur kekuatan greenback (US Dollar) versus enam mata uang utama, berada pada level rendah intraday di 96,09 sebelum rebound ke 96,36 (turun 0,19 atau 0,20%) pada penutupan perdagangan sore AS. Pada level sesi tertinggi di 96,60, indeks hanya turun fraksional dari level tertinggi tiga bulan pada akhir Juni dalam kurun waktu paska-Brexit. Meskipun dolar telah turun dari puncaknya pada bulan Desember, tapi kemudian rebound lebih dari 4% dari level awal Mei ketika merosot ke posisi terendah 10-bulan.

Ketika Federal Reserve merilis versi terbaru laporan Beige Book pada Rabu sore, survei menunjukkan ada sedikit pertumbuhan ekonomi di sebagian besar wilayah AS untuk periode bulanan sampai 1 Juli. Pada saat yang sama, responden dari 12 distrik Fed melaporkan indikasi terdapat sedikit pertumbuhan lapangan kerja, dan tingkat belanja konsumen yang positif, meskipun ada beberapa tanda-tanda kondisi penurunan. Sementara tiga wilayah, Dallas, Chicago dan Boston mengatakan bulan lalu referendum Inggris memiliki efek pada aktivitas bisnis di daerah mereka, sementara tak satu pun dari wilayah lain membuat catatan sehubungan keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa.

Selama beberapa minggu terakhir, anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tidak sepakat mengenai waktu kenaikan suku bunga Fed berikutnya. Presiden Fed Kansas City Esther George dan presiden Cleveland Loretta Mester tampaknya mendukung kenaikan suku bunga secara bertahap dalam jangka menengah, sementara Presiden St. Louis Fed James Bullard dan presiden Minnesota Fed Neel Kashkari tampaknya menganjurkan bertindak sabar dalam pengetatan kebijakan moneter. Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker mengatakan pada hari Rabu bahwa FOMC masih bisa menaikkan suku hingga dua kali tahun ini.

BACA >  Trend Bullish Untuk U.S. Dollar

Di Inggris, Menteri Dalam Negeri Theresa May dikukuhkan sebagai perdana menteri kedua kalinya wanita Inggris setelah David Cameron resmi mengundurkan diri dari posisinya pada hari Rabu. Langkah ini membantu meredakan sentimen investor mengenai kekuatan ekonomi Inggris untuk saat ini.

Pada Rabu, mantan walikota London Boris Johnson diangkat sebagai menteri luar negeri, David Davis sebagai Sekretaris Negara untuk proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Keputusan ini diambil menjelang pertemuan Bank of England (BOE) pertama sejak keputusan Brexit yang sangat diantisipasi. Sementara Gubernur BOE Mark Carney telah memberi indikasi kuat bahwa bank bisa menurunkan suku bunga dan menerapkan pelonggaran di musim panas ini, Carney telah mengisyaratkan bahwa BOE bisa menunggu sampai Agustus sebelum bertindak.

GBP/USD mencapai nilai tertinggi dua minggu dari 1,337 pada hari Rabu, sebelum jatuh kembali ke 1,3133 pada penutupan perdagangan sore AS.
Di sisi lain, para investor mencerna laporan bahwa Jepang bisa mengadopsi kebijakan moneter helikopter setelah pertemuan mantan ketua Federal Reserve Ben Bernanke dengan Abe, pada hari Selasa di Tokyo. Konsep helikopter melibatkan pencetakan uang berskala besar oleh Bank Sentral yang didistribusikan ke masyarakat sebagai cara untuk membantu merangsang perekonomian. Abe meluncurkan reformasi besar-besaran setelah Partai Demokrat Liberal-nya (LDP) menang dalam pemilihan di akhir pekan, termasuk rencana stimulus ¥10 trilyun ($98 bilyun ).

Selain itu, pemerintah Jepang menurunkan perkiraan inflasi konsumen tahunan Maret 2017 dari 1,2 ke 0,4% pada hari Rabu. Akibatnya, dolar memangkas kerugian sebelumnya terhadap Yen, diperdagangkan pada 104,32 pada akhir sesi sore AS, turun 0,17% pada hari itu. Pasangan mata uang ini merosot ke 104,00 pada sesi-posisi terendah, satu hari setelah mencapai nilai tertinggi dua minggu di 104,98.

BACA >  Yen Melemah Menjelang Ekspektasi Kebijakan BOJ

Post Comment